Bibi Diperkosa Saat Tertidur Pulas
Cerita sex bibi diperkosa saat tertidur pulas . Hari itu aku utama ke rumah bibiku karena ada keperluan tertentu. kuketuk pintu rumah bibiku dan karena dirumah tidak ada yang menjawab, akupun langsung masuk ke dalam rumahnya karena pintu rumah tidak terkunci.

Kucari cari bibiku hingga kekamarnya karena pintunya terbuka. Saat masuk kamar kulihat bibiku sedang tertidur pulas tidak memakai selimut. karena biarpun kamar bibiku memakai AC, tapi sepertinya AC-nya diatur agar tidak terlalu dingin.
Posisi tidur bibiku telungkup dan hanya memakai baju daster putih dengan terusan rok warna kuning yang tipis.
Dasternya sudah terangkat sampai di atas perut, hingga terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna biru muda, sehingga terlihat bagian kemaluan bibi yang ditutupi oleh rambut hitam halus kecoklat-coklatan.
Buah dada bibiku yang tidak terlalu besar tapi padat dan montok itu terlihat samar-samar di balik dasternya yang tipis, naik turun dengan teratur.Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada bibi terlihat mencuat ke atas dengan puting payudaranya yang coklat muda kecil.
Melihat pemandangan yang menggairahkan itu aku benar-benar terangsang hebat hingga kepikiran untuk memperkosa bibiku sendiri. Dengan cepat kemaluanku langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur.
Perlahan-lahan aku jongkok di samping tempat tidur dan mencatat secara hati-hati kuletakkan dengan lembut pada bagian kemaluan bibi yang mungil itu yang masih ditutupi dengan celana dalam.
Perlahan-lahan diterima mulai mengelus-elus kemaluan bibiku dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat merangsang.
Terlihat bibi agak bergeliat dan mulut agak tersenyum, mungkin bibi sedang bermimpi, sedang becinta dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati takut bibi terbangun.
Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi sudah mulai terangsang juga. Dari mulut terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat perlahan-lahan.
Aku semakin tersangsang melihat pemandangan itu. Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga sekarang aku bertelanjang bulat. Penisku yang berukuran 19 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari mangsa.
Akupun mulai tertidur-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku tahu bahwa puting dan klitoris bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal tersebut dari film-film bokep bibiku.
Lalu pengiriman yang satu mulai gerilya di daerah vaginanya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD mini bibi dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur bibi. Sekarang kemaluan bibi terpampang dengan jelas tanpa ada penutup lagi.
Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas bibi. Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa agar tidak menyentuh pinggul bibi.
Tangan kananku menekan kasur tempat tidur, tepat di samping tangan bibi, sehingga sekarang aku berada dalam posisi setengah menghadap ke atas bibi.Tangan kiriku memegang batang penisku.
Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada bagian bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar itu kugosok-gosok dengan hati-hati di bibir kemaluan bibi.
Terdengar suara erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat, namun matanya tetap tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir kemaluan bibi.
Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi tetap terdengar suara mendesis perlahan, tetapi badannya tampak mulai tidak nyaman.
Aku tidak mau mengambil risiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus menaklukan kemaluan bibi dengan menempatkan posisi penisku di dalam lubang vagina bibi.
Sebab itu segera kupastikan letak penisku agar tegak lurus pada kemaluan bibi. Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.
Kelihatan sesaat kedua paha bibi bergerak melebar, seolah-olah akan menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku.
Badannya tiba-tiba bergetar menggeliat dan kedua matanya tiba-tiba terbuka, terbelalak bingung, memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan siap berteriak.
Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi agar jangan berteriak.
Karena gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi, akibatnya berat seluruh pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak dapat dicegah lagi penisku masuk ke dalam lubang kemaluan bibi dengan cepat.
Badan bibi merobek ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan, sedangkan kedua tangan otomatis mendorong ke atas, tolak dadaku.
Dari mulut keluar suara berkata, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiriku. “Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.
Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, nampaknya bibiku sangat kaget dan mungkin juga sakit akibat penisku yang besar menerobos masuk ke dalam kemaluannya dengan tiba-tiba.
Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku dengan rapat.
Karena gerakan-gerakan bibi dengan kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di dalam vagina bibi terasa dipelintir-pelintir dan seolah-olah akan dipijit-pijit oleh otot-otot di dalam vagina bibi. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.
Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kananku yang tadinya bertumpu pada tempat tidur kulepaskan. Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping kepala bibi sambil berbisik kekuping bibi.
“Bii.., bii.., ini aku Eric.Tenang bii.., sshheett.., shhett..!” bisikku.
Bibiku masih mencoba melepaskan diri, namun tidak berkuasa karena badannya yang mungil itu teperangkap di bawah tubuhku.
Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai kugerakkan naik turun dengan teratur.Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang mulai melemah.Kubisikan lagi ke kuping bibi,
“Bii.., dikirimkan akan kulepaskan dari mulut bibi, asal bibi janji jangan berteriak yaa..?”Perlahan-lahan diterima kulepaskan dari mulut bibi.Kemudian Bibi berkata,
“Riic.., apa yang kau buat ini..? Kamu telah memperkosa Bibi..!”Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku semakin kupercepat dan mulai memijit-mijit buah dada bibi, terutama pada bagian putingnya yang sudah sangat menegangkan.
Meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, namun reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu.
Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi.Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, “Oohh.., oohh.., sshh.., sshh.., eemm.., eemm.., Riicc.., Riicc..!”
Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua daratan bertumpu pada tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up.
Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi dengan bebas, melakukan serangan-serangan langsung ke dalam lubang kemaluan bibi.
Kepalaku tepat berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke bawah ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu.
Dari mulutnya tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang beberapa saat setelah merasa pasti bahwa bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku. Setelah mencabut penisku dari dalam kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi.
Sebelah diterima mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.
“Eehh.., Ric.., kenapa kau melakukan ini kepada bibimu..!” Sebelum menjawab aku menarik badan bibi menghadapku dan memeluk badan mungilnya katanya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan.
Bibirku mencari bibirnya, dan dengan gemas kulumat habis. Woowww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku dan lidahnya ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari di mulut.Selang jeda kuhentikan ciumanku itu.Sambil memandang langsung ke dalam kedua mata dengan mesra, aku berkata, ”
Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi ayu..!”Sambil berkata itu kucium lagi bibir selintas dan melanjutkan kataku,
“Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat cemburu, Seolah-olah Bibi adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa berbaring, ini kulakukan karena tidak bisa menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya.”
Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.Ciumanku kali ini sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan belahan jiwa masuk ke dalam diriku.
Ini kulakukan dengan perasaan cinta kasih yang setulus-tulusnya. penyelesaian bibi juga dapat merasakan perasaan sayangku padanya, sehingga pelukan dan ciumanku itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra juga.
Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun berbaring telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang telanjang itu.”Iih.., gede banget barang kamu Ricc..!
Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh dalam badan Bibi.” , mungkin punyaku lebih besar dari punya paman. Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya.
Ciumanku mulai dari mulut turun ke leher dan terus kedua buah dada yang tidak terlalu besar tapi padat itu. Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua buah dada, terutama pada kedua ujung putingnya bergantian-ganti, kiri dan kanan.
Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi menggeliat-geliat kenikmatan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tak henti-hentinya.
Aksiku kuteruskan ke bawah, turun ke kedalaman yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum pernah melahirkan.
Bermain-main sebentar di sini kemudian turun ke bawah, menuju sasaran utama yang terletak di lembah di antara kedua paha yang putih mulus itu.
Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang vaginanya.
Mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas lubang kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua genggaman mencengkeram erat, menekan ke bawah disertai kedua pahanya yang menegangkan dengan kuat.
Keluhan panjang keluar dari mulut, “Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!”Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan kutempatkan posisi badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan setengah menutup.
Posisi batang kemaluanku tetap berada di depan kepala bibi. Ternyata bibi maklum akan menginginkanku itu, karena terasa batang kemaluanku dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos masuk di antara daging empuk yang hangat.
Ketika ujung lidah bibi mulai bermain-main di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluarnya kenikmatan dari mulutku.
Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain.
Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di samping bibi. Kemudian sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan kudorong agak ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan.
Kedua lututku dan pantatku agak kunaikkan ke atas, sehingga terasa penisku yang panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit di antara kedua bibir kemaluan bibi.
Dengan suatu tekanan yang menyebar pada pantat bibi dan sentakan ke atas pantatku, maka penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi.
Amblas semua batangku.”Aahh..!” terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibi.Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena tampaknya bibi sudah mau klimaks.
Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku. Kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.
Ketika kulihat cermin pada besar di lemari, tampak pinggul bibi yang sedang melaju-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar terlihat sedikit hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku. Hal ini membuatku jadi semakin terangsang.
Tiba-tiba sesuatu yang mendesak dari dalam penisku mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku.
Kemudian air maniku tanpa dapat menahannya menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina bibi, yang pada saat yang sama pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terlonjak-lonjak.
Kedua tangan mendekap badanku dengan keras.Pada saat yang sama kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya bibi tertelungkup di atas badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat senyuman puas.
”Riic.., terima kasih Ric.Kau telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!”Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling membersihkan diri satu sama lain.
Sementara mandi, kami berpelukan dan berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi.
Dengan setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi menggelantung di leherku,
kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar di pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan di pantat bibi dan menekan, penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.”Aaughh.. oohh.. oohh..!” terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakan-gerakan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas.
Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.
“Aaduhh.. Riic.. Biibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Riic..!” dengan keluhan panjang disertai badannya yang mengejang, bibi mencapai orgasme , dan selang sesaat terkulai lemas dalam gendonganku.Dengan penisku masih berada di dalam lubang umum bibi, aku terus membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur.
Dalam keadaan tubuh yang masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku.
Kupeluk badan bibi erat-erat sambil merasakan airmaniku menyemprot-nyemprot, crott dengan deras ke dalam lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung di dalam memeknya.
Sejak saat itu bibiku jadi ketagiahan ngentot denganku, terkadang kami melakukannya didapur, kamar mandi, dan lebih gilanya lagi kami melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan paman di dalam rumah bibi sendiri walaupun saat paman sedang berada dirumah.
